Data Konkret tentang Kredit Pajak Masukan yang Tidak Sesuai Dapat Mengakibatkan Pemeriksaan

Kredit Pajak Masukan (PPN) yang tidak sesuai ketentuan kini dapat dikategorikan sebagai data konkret. Karena kredit pajak masukan yang tidak sesuai ketentuan dikategorikan sebagai data konkret, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dapat langsung menggunakan data ini untuk melakukan pengawasan atau pemeriksaan. “Bukti transaksi atau data perpajakan… dapat berupa… kredit pajak masukan yang tidak sesuai ketentuan,” bunyi Pasal 2 ayat (2) huruf e Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER 18/PJ/2025, dikutip Senin (29 September 2025). Untuk memahami ketentuan kredit pajak masukan, Pengusaha Kena Pajak (PKP) perlu memahami ketentuan yang tersebar di berbagai peraturan perundang-undangan. Secara umum, pajak masukan dalam suatu masa pajak dapat dikreditkan oleh PKP terhadap pajak keluaran dalam masa pajak yang sama. Pajak masukan yang dapat dikreditkan adalah PPN dalam faktur pajak yang memenuhi syarat formal dan material. Faktur pajak memenuhi syarat formal apabila diisi secara lengkap, jelas, dan benar. Syarat material terpenuhi apabila faktur pajak memuat informasi yang benar dan akurat. Apabila Pajak Masukan pada faktur pajak belum dikreditkan pada Masa Pajak yang sama, Pengusaha Kena Pajak (PKP) dapat mengkreditkan Pajak Masukan tersebut pada Masa Pajak berikutnya, paling lama tiga Masa Pajak setelah Masa Pajak Faktur Pajak diterbitkan. Selain ketentuan di atas, terdapat beberapa Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan oleh PKP. Misalnya, Pajak Masukan yang berkaitan dengan perolehan Barang/Jasa Kena Pajak yang tidak berkaitan langsung dengan kegiatan usaha tidak dapat dikreditkan oleh PKP. Lebih lanjut, PKP tidak dapat mengkreditkan Pajak Masukan atas perolehan Barang/Jasa Kena Pajak yang berkaitan dengan penyerahan yang dibebaskan dari PPN. Lebih lanjut, Pajak Masukan atas perolehan Barang/Jasa Kena Pajak yang berkaitan dengan penyerahan yang dikenakan PPN dengan tarif tertentu tidak dapat dikreditkan. Sebagai informasi, pemeriksaan data konkret oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) merupakan pemeriksaan khusus sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 15/2025. Pemeriksaan khusus adalah pemeriksaan untuk memverifikasi kepatuhan kewajiban perpajakan, khususnya untuk satu atau lebih pos dalam SPT dan/atau SPOP, data, atau kewajiban perpajakan tertentu secara sederhana. Masa pemeriksaan khusus terdiri dari masa pemeriksaan satu bulan dan Masa Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan (PAHP) selama 30 hari. Namun, apabila pemeriksaan khusus dilakukan karena terdapat data konkret yang menunjukkan adanya kekurangan pembayaran pajak wajib pajak, maka masa pemeriksaan dipersingkat menjadi 10 hari kerja. Masa PAHP juga dipersingkat menjadi 10 hari kerja.

Penunjukan Shopee dkk sebagai Pemungut Pajak, Menkeu Purbaya: Kita Akan Pikirkan Nanti

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberi sinyal penundaan penunjukan marketplace atau e-commerce, seperti Shopee dan kawan-kawan (dkk) sebagai pemungut Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 0,5 persen untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). “Saya lihat begini, ini ribut-ribut kemarin nih. Kita tunggu dulu deh!. Tapi paling enggak sampai kebijakan [menyalurkan dana ke perbankan] yang Rp200 triliun. Ini  kebijakan untuk mendorong perekonomian mulai kelihatan dampaknya, baru kita akan pikirkan nanti [soal kebijakan penunjukan e-commerce sebagai pemungut pajak],” ungkap Purbaya kepada awak media di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Jakarta, dikutip Pajak.com (29/9/25). Kendati demikian, dia memastikan kesiapan DJP dalam menerapkan aturan dan sistem kebijakan perpajakan. Seperti diketahui, penunjukan e-commerce sebagai pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22 diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 37 Tahun 2025 tentang Penunjukan Pihak Lain Sebagai Pemungut Pajak Penghasilan dan Tata Cara Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan yang Dipungut Pihak Lain atas Penghasilan yang Diterima atau Diperoleh Pedagang Dalam Negeri dengan Mekanisme Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMK 37/2025). Kemudian, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER 15/P/2025 (PER 15/2025) juga telah menetapkan bahwa pemungut Pasal 22 Final adalah e-commerce yang memenuhi batasan nilai transaksi dengan pemanfaat jasa di Indonesia melebihi Rp600 juta dalam 12 bulan atau Rp50 juta dalam satu bulan. “Tapi yang jelas sistemnya sudah siap sekarang,” tegas Purbaya. Pada kesempatan berbeda, Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan meminta waktu minimal satu tahun sebelum penerapan PMK 37/2025. “Waktu ini dibutuhkan untuk membangun sistem pelaporan, edukasi kepada seller, dan integrasi dengan sistem Direktorat Jenderal Pajak (DJP),” ungkap Budi kepada Pajak.com (14/7/25). Poin Pokok PMK 37/2025 Sebagai informasi, pokok-pokok pengaturan dalam PMK 37/2025 antara lain: mekanisme penunjukan e-commerce sebagai pemungut PPh Pasal 22 atas transaksi yang dilakukan oleh pedagang/UMKM (merchant) online dalam negeri. dalam pelaksanaannya, pedagang wajib menyampaikan informasi kepada pihak pasar sebagai dasar pengumpulan. PMK juga mengatur besaran pemungutan PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen yang bisa bersifat final dan non final. menetapkan faktur sebagai dokumen khusus yang dipersamakan dengan bukti pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan Unifikasi. mekanisme pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 oleh marketplace atas transaksi yang dilakukan merchant telah sesuai dengan dokumen faktur penjualan dan standarisasi data minimal yang harus dicantumkan dalam faktur. pihak marketplace mempunyai kewajiban menyampaikan informasi kepada Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Pada kesempatan yang berbeda, Direktur Peraturan Perpajakan I Hestu Yoga Saksama menjelaskan bahwa tidak semua pedagang on-line akan dikenakan PPh final 0,5 persen sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2018. “Misalnya, saya berjualan dan memiliki peredaran bruto cuma Rp4 miliar, kurang dari Rp4,8 miliar. Sebenarnya yang PPh yang dipungut di marketplace sudah final, sehingga nanti di SPT [Surat Pemberitahuan] PPh saya, tinggal isi SPT saja berdasarkan bukti potong dari marketplace, sehingga SPT-nya menjadi nihil. Untuk yang penjual besar, misalnya penjual mobil itu juga dipungut setengah persen, tapi perlakuannya sebagai kredit pajak. Karena penjualan mobil enggak boleh PPh final,” jelasnya dalam Media Briefing di DJP, pada (14/7/25). Di sisi lain, Hestu menekankan bahwa PMK 37/2025 juga membebaskan tarif PPh final sebagaimana yang termaktub dalam PP Nomor 55 Tahun 2022. Dalam PP tersebut bahwa pedagang yang omzet tahunannya kurang dari Rp500 juta dibebaskan pajak. “Namun, merchant harus menyampaikan […]

PER 18/2025 Diterbitkan! Dirjen Pajak Menindaklanjuti Data Konkret untuk Pengawasan dan Pemeriksaan

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menegaskan kewenangan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) untuk menindaklanjuti data konkret wajib pajak dalam rangka kegiatan pengawasan dan pemeriksaan. Penegasan ini tertuang dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-18/PJ/2025 tentang Tindak Lanjut Data Konkret (PER 18/2025), yang mulai berlaku pada 24 September 2025. “Dalam rangka meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan, perlu dilakukan tindak lanjut data konkret,” demikian bunyi bagian “Menimbang” dalam PER 18/2025. PER 18/2025 juga diterbitkan untuk memberikan kepastian hukum dan manfaat dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak serta akuntabilitas dalam menindaklanjuti data konkret. Daftar Data Konkret untuk Pengawasan dan Pemeriksaan Pasal 2 PER 18/2025 merinci daftar data konkret yang diperoleh atau dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP), sebagai berikut: Faktur pajak yang telah disetujui melalui sistem informasi DJP, tetapi belum dilaporkan oleh wajib pajak dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN); Bukti pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) yang belum dilaporkan oleh penerbit bukti pemotongan atau pemungutan dalam SPT Masa PPh; dan/atau Bukti transaksi atau data perpajakan yang dapat digunakan untuk menghitung kewajiban perpajakan wajib pajak, yang memerlukan pengujian sederhana. Bukti tersebut dapat meliputi: Kelebihan pengurang dalam SPT Masa PPN yang tidak didukung oleh kelebihan pembayaran dalam SPT Masa PPN sebelumnya; Penghitungan ulang pajak masukan sebagai pengurang pajak keluaran oleh wajib pajak yang tidak berhak menggunakan pedoman kredit pajak masukan bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan kena pajak dan tidak kena pajak; PPN yang dibayar di muka yang tidak atau kurang dibayar; Pemanfaatan insentif pajak yang tidak semestinya; Pengkreditan pajak masukan yang tidak semestinya; Penghasilan yang tidak atau kurang dilaporkan berdasarkan surat bukti pemotongan pajak yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan/atau kesalahan terkait penggunaan norma penghitungan penghasilan neto; Data dan/atau informasi yang bersumber dari ketetapan, keputusan, dan/atau putusan perpajakan atas sengketa mengenai penerapan peraturan perundang-undangan perpajakan yang bersifat final dan dapat langsung digunakan untuk menghitung utang pajak yang tidak atau kurang dilaporkan oleh Wajib Pajak dalam Surat Pemberitahuannya; dan/atau Data dan/atau informasi yang telah diterbitkan Surat Permintaan Penjelasan Data dan/atau Informasi (SP2DK), serta Berita Acara Permintaan Penjelasan Data dan/atau Informasi wajib dibuat yang memuat persetujuan Wajib Pajak. Berita Acara tersebut wajib berdasarkan pemenuhan kewajiban perpajakan dan ditandatangani oleh Wajib Pajak, wakil Wajib Pajak, atau kuasanya—meskipun pemenuhan kewajiban perpajakan tersebut belum dipenuhi atau tidak dipenuhi hingga batas waktu yang disepakati oleh Wajib Pajak—dan dapat digunakan untuk menghitung kewajiban perpajakan Wajib Pajak. “Data konkret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 wajib ditindaklanjuti dengan pengawasan dan/atau pemeriksaan,” bunyi Pasal 3 PER 18/2025. Pemeriksaan yang dimaksud merupakan jenis pemeriksaan khusus. Mengutip Peraturan Menteri Keuangan Nomor 15 Tahun 2025 tentang Pemeriksaan Pajak (PMK 15/2025), pemeriksaan khusus adalah pemeriksaan untuk menguji kepatuhan kewajiban perpajakan, khususnya untuk satu atau lebih pos dalam Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) dan/atau Surat Pemberitahuan untuk objek pajak tertentu, data, atau kewajiban perpajakan tertentu secara sederhana. PMK 15/2025 juga menetapkan bahwa jangka waktu pemeriksaan khusus maksimal satu bulan.

Tata Cara Pencabutan Status PKP

Pencabutan Pengukuhan PKP Secara Jabatan Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah badan usaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang PPN. Dengan kata lain, badan usaha berstatus PKP wajib memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atau PPnBM atas penyerahan BKP/JKP. Perihal pencabutan PKP telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK.03/2017 s.t.d.t.d. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81 Tahun 2024 (PMK 81/2024). Berdasarkan PMK 81/2024, pencabutan pengukuhan PKP dapat dilakukan berdasarkan permohonan atau secara jabatan. Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang tidak lagi memenuhi persyaratan dapat dicabut statusnya secara resmi. Pencabutan resmi ini dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan atau peninjauan administratif. Prosedur pencabutan melalui peninjauan administratif dilakukan bagi Pengusaha Kena Pajak (PKP) dengan ketentuan sebagai berikut: PKP dengan status wajib pajak nonaktif; PKP telah dinonaktifkan akses pembuatan faktur pajak dan tidak melakukan klarifikasi dalam jangka waktu 30 hari sejak penonaktifan atau klarifikasinya ditolak; PKP menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak pengukuhan PKP yang telah mendapatkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap; PKP orang pribadi meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan; PKP BUT telah menghentikan kegiatan usaha di Indonesia; dan/atau PKP dengan keadaan tertentu yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak. Pencabutan Pengukuhan PKP Melalui Permohonan Dalam hal pencabutan status PKP dilakukan melalui permohonan PKP, maka PKP wajib menyampaikan permohonan dengan melampirkan dokumen yang menunjukkan bahwa PKP tidak lagi memenuhi kriteria. Selanjutnya, setelah permohonan diterima, DJP akan melakukan pemeriksaan. Keputusan atas permohonan tersebut harus diterbitkan dalam jangka waktu 6 bulan. Apabila melewati jangka waktu tersebut, permohonan dianggap diterima dan keputusan pencabutan wajib diterbitkan paling lama 1 bulan. Pengajuan Permohonan Pencabutan PKP di Coretax Mula-mula login Coretax. Lakukan impersonating jika PKP yang mengajukan permohonan pencabutan adalah Badan Usaha. Klik Menu Portal Saya → Penghapusan & Pencabutan. Selanjutnya, pada Formulir Manajemen Kasus → Jenis Pembatalan (penghapusan NPWP atau pencabutan/pengukuhan PKP/SKT PBB). Setelah memilih Jenis Pembatalan, lanjutkan dengan memastikan bahwa Identitas Kuasa Wajib Pajak serta Identitas Wajib Pajak telah sesuai, kemudian unggah dokumen pendukung Penghapusan Pendaftaran. Setelah dokumen pendukung Penghapusan Pendaftaran selesai diunggah, lanjutkan dengan mencentang Pernyataan Wajib Pajak. Kemudian klik Simpan.

Total Penghasilan Suami Istri Tembus Rp4,8 Miliar, Tapi Harta Terpisah, Wajib PKP?

Pusat Kontak Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kring Pajak, memberikan penjelasan terkait kewajiban pengusaha untuk terdaftar sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) jika omzetnya melebihi Rp4,8 miliar. Penjelasan ini menanggapi cuitan seorang netizen yang menanyakan tentang kewajiban PKP bagi pasangan suami istri dengan omzet masing-masing Rp3 miliar dan Rp4 miliar, tetapi NPWP-nya terpisah. “Apabila suami istri masing-masing memiliki NPWP sendiri karena usaha patungan (PH/MT), omzet mereka tidak digabung dan dihitung terpisah. Jika omzet masing-masing belum melebihi Rp4,8 miliar, mereka tidak wajib terdaftar sebagai PKP,” demikian pernyataan Kring Pajak, Minggu (28 September 2025). Sesuai dengan PMK 68/2010 sebagaimana telah diubah dengan PMK 197/2013, pengusaha yang wajib terdaftar sebagai PKP adalah pengusaha yang memiliki peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto melebihi Rp4,8 miliar untuk satu bulan tertentu dalam tahun pajak. Peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto adalah jumlah total penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang dilakukan oleh pengusaha dalam rangka kegiatan usahanya. Jika jumlahnya melebihi Rp4,8 miliar, pengusaha wajib melaporkan usahanya untuk didaftarkan sebagai PKP. Pendaftaran PKP harus diselesaikan sedini mungkin, dengan ketentuan bahwa pengusaha telah memenuhi persyaratan kumulatif berikut: 1. Menyerahkan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak; 2. Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean; dan 3. Peredaran dan/atau penerimaan bruto melebihi Rp4,8 miliar. Perlu diketahui bahwa status PKP, selain memberikan identitas bagi PKP yang bersangkutan, juga dapat digunakan sebagai kredit pajak masukan untuk transaksi dengan mitra PKP lainnya. Dengan dikukuhkan sebagai PKP, pelaku usaha akan memikul kewajiban wajib pajak di bidang PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Pertamina Jelaskan Alasan Mobil Tak Bisa Isi BBM, Jika Ada Tunggakan Pajak

Media sosial ramai diperbincangkan dengan video sekelompok pria berseragam cokelat yang berpura-pura menjadi polisi sedang memeriksa sebuah SPBU. Dalam video tersebut, mereka melarang SPBU tersebut melayani pembelian bahan bakar kepada kendaraan yang menunggak pajak. PT Pertamina (Persero) telah memberikan penjelasan. Sekretaris Perusahaan PT. Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, memastikan bahwa pengumuman dalam video tersebut adalah informasi palsu atau hoaks. “Pertamina Patra Niaga mengajak masyarakat untuk memastikan kebenaran informasi melalui kanal resmi perusahaan, seperti Pertamina Call Center 135 dan akun resmi media sosial Pertamina,” jelas Roberth dalam keterangan tertulis, dikutip Pajak.com (26/9/25). Ia mengimbau masyarakat untuk waspada dan berhati-hati terhadap berbagai disinformasi atau hoaks lain yang kerap beredar, seperti rekrutmen palsu yang meminta bayaran, pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU swasta, dan rumor palsu tentang harga, serta informasi lainnya. Robert juga memastikan distribusi BBM tetap berjalan sesuai ketentuan dan mekanisme yang ditetapkan pemerintah. Distribusi BBM bersubsidi tetap tepat sasaran dan transparan. Target distribusi BBM bersubsidi yang disepakati Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk tahun 2025 adalah 19,41 juta kiloliter. Dari jumlah tersebut, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menetapkan anggaran subsidi BBM sebesar Rp26,7 triliun, meningkat 23,61 persen dari tahun 2024. Sebagaimana diketahui, tidak ada undang-undang yang melarang wajib pajak untuk mengisi bahan bakar. Namun, pemerintah daerah dapat mencabut nomor registrasi kendaraan bermotor bagi wajib pajak—sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Berdasarkan undang-undang ini, registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dicabut bagi kendaraan bermotor yang tidak melakukan registrasi ulang atau membayar pajak kendaraan selama dua tahun—setelah masa berlaku Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) berakhir. Lebih lanjut, data kendaraan dapat diblokir sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 5 Tahun 2012 tentang Registrasi dan Identifikasi Kendaraan Bermotor.

Permintaan Konfirmasi Kompensasi Kelebihan Pembayaran Pajak

Wajib Pajak dapat memperoleh restitusi kelebihan pembayaran pajak jika: (i) terdapat kelebihan pembayaran pajak; dan (ii) diberikan bunga. Dalam hal ini, wajib pajak dapat mengajukan restitusi kelebihan pembayaran pajak (restitusi). Namun, kelebihan pembayaran pajak beserta bunganya harus dihitung terlebih dahulu untuk melunasi utang pajak wajib pajak. Apabila setelah perhitungan tersebut masih terdapat sisa atau wajib pajak tidak memiliki utang pajak, maka sisa tersebut akan dikembalikan. Setelah proses restitusi selesai, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan menerbitkan surat ketetapan pajak yang menyatakan kelebihan pembayaran pajak. Surat ketetapan pajak ini meliputi: Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB); Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak (SKPPKP); dan Surat Keputusan Pemberian Kompensasi Bunga (SKPIB). Selanjutnya, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan mengirimkan Surat Permohonan Konfirmasi Kompensasi Kelebihan Pembayaran Pajak kepada wajib pajak. Surat ini, yang juga dikenal sebagai Surat Permohonan Konfirmasi Kelebihan Pembayaran Pajak (SPKKP), akan dikirimkan secara elektronik kepada wajib pajak melalui coretax. Mengacu pada Pasal 154 ayat (3) PMK 81/2024, SPKKP dikirimkan untuk meminta konfirmasi kepada wajib pajak terkait penggunaan sisa kelebihan pembayaran pajak. Terdapat tiga pilihan yang dapat dipilih wajib pajak terkait sisa kelebihan pembayaran pajak: 1. membayar utang pajak atas nama wajib pajak lain; 2. menyetor pajak atas nama sendiri; atau 3. tidak memilih salah satu dan sisa kelebihan pembayaran pajak akan ditransfer ke rekening utama. Wajib pajak harus memberikan persetujuan ini paling lambat: (i) 7 hari sejak tanggal permohonan konfirmasi diajukan; atau (ii) 1 hari sebelum batas waktu penerbitan surat keputusan restitusi kelebihan pembayaran pajak, mana yang lebih dahulu. Apabila wajib pajak tidak memberikan persetujuan dalam jangka waktu yang ditentukan, sisa kelebihan pembayaran pajak akan dikembalikan kepada wajib pajak. Pengembalian akan dilakukan menggunakan nomor rekening dalam negeri atas nama wajib pajak, yang tercantum dalam profil wajib pajak di basis data perpajakan. Sebelum menanggapi Surat Pemberitahuan Pajak (SPKKP), pastikan Anda telah mengisi dan memilih nomor rekening utama yang benar. Jika terdapat beberapa nomor rekening, pastikan kolom “rekening bank utama” dicentang. Setelah nomor rekening benar, Anda dapat memulai proses konfirmasi kelebihan pembayaran. Pertama, buka Coretax dan masuk ke akun Coretax DJP Anda.

Adakah Konsekuensi Penggunaan NPWP Sementara untuk Membuat Bupot Karyawan?

Wajib pajak perlu memahami konsekuensi penggunaan NPWP Sementara, terutama saat membuat Bukti Pemotongan Pajak (BPMP) bulanan bagi pegawai tetap. NPWP Sementara merupakan solusi sementara yang dapat digunakan untuk membuat Struk jika Nomor Induk Kependudukan (NIK) penerima belum terdaftar dalam sistem perpajakan pusat. Namun, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengingatkan konsekuensi penggunaan NPWP Sementara. “Perlu diketahui bahwa penggunaan NPWP Sementara memiliki konsekuensi. Bukti Pemotongan Pajak yang dibuat tidak akan terkirim ke rekening wajib pajak penerima, sehingga tidak akan dicantumkan (tidak akan terisi) dalam SPT Tahunan penerima,” jelas DJP dalam Keterangan Tertulis No. KT-05/2025, dikutip Kamis (25 September 2025). Berdasarkan KT-05/2025, terdapat dua konsekuensi penggunaan NPWP Sementara. Pertama, tanda terima tidak akan terkirim ke rekening wajib pajak penerima. Kedua, Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan (bupot) tidak akan otomatis terisi dalam SPT Tahunan PPh penerima. Hal ini akan berdampak pada administrasi SPT PPh Formulir BPA1. SPT PPh Formulir BPA1 dibuat untuk masa pajak terakhir, yaitu: (i) masa berakhirnya masa kerja pegawai tetap; atau (ii) masa pajak Desember. Saat membuat SPT PPh Formulir BPA1, sebagian besar kolom tidak dapat diedit dan terisi otomatis dari hasil pengisian BPMP (Nomor Pokok Wajib Pajak Terdaftar) yang dibuat dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang telah divalidasi (sudah terdaftar dalam basis data). Artinya, SPT PPh Formulir BPA1 tidak dapat dibuat jika BPMP untuk pegawai tetap masih menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Sementara. Sistem Coretax juga tidak dapat melakukan pra-pengisian data dari BPMP yang dibuat menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Sementara. “Di Coretax DJP, SPT A1 hanya dapat dibuat jika riwayat penghasilan menggunakan NIK yang terdaftar di basis data Coretax DJP, bukan NPWP sementara,” jelas DJP di laman Coretaxpedia. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengimbau pemotong pajak untuk membatalkan BPMP (Nomor Pokok Wajib Pajak Terdaftar) bagi pegawai tetap yang masih menggunakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Sementara. Pemotong pajak kemudian harus membuat ulang BPMP menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) pegawai tetap yang masih berlaku (terdaftar di sistem Coretax) dan melakukan koreksi pada SPT mereka. “Jika sebelumnya menggunakan NPWP sementara, bukti potong bulanan harus dibatalkan terlebih dahulu, kemudian dibuat ulang menggunakan NIK yang valid. Baru setelah itu, wajib pajak dapat membuat bukti potong A1,” demikian pernyataan DJP dalam Coretaxpedia. Terkait kendala ini, DJP juga mengimbau penerima penghasilan (karyawan) untuk segera mendaftarkan NIK mereka di sistem Coretax. Perempuan yang telah menikah dan memiliki NPWP yang digabungkan dengan suami dapat mendaftar dengan memasukkan NIK istri ke dalam data keluarga suami (DUK). Sebagai informasi, sejak penerapan Coretax, DJP telah mengalihkan proses pembuatan formulir setoran uang (Bupot) dari DJP Online ke Coretax. Namun, terkadang, pengiriman uang terhambat oleh NPWP/NIK penerima penghasilan yang tidak valid karena tidak terdaftar di sistem Coretax atau karena alasan lain. Untuk mengatasi tantangan ini, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menyiapkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) sementara 16 digit dengan nomor standar 16 digit: 9990000000999000, sebagaimana diumumkan dalam KT-05/2025. NPWP sementara ini secara otomatis menggantikan NPWP pihak pemotong pajak jika NIK mereka tidak valid. Saat membuat Surat Pemberitahuan (Bupot) menggunakan skema key-in, pemotong/pemungut pajak harus terlebih dahulu memasukkan NPWP/NIK penerima […]

Perbaikan Coretax Ditargetkan Selesai Dalam 3 Bulan

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meminta masyarakat untuk bersabar menunggu penyelesaian penyempurnaan Coretax. Mekar Satria Utama, Direktur Perpajakan Internasional DJP, menjelaskan bahwa negara lain juga membutuhkan waktu yang lama untuk mengembangkan sistem serupa. Jepang, misalnya, membutuhkan hampir 3-5 tahun, sementara Perancis butuh hingga 8 tahun untuk memiliki sistem perpajakan yang terintegrasi penuh. “Saya secara pribadi dan mungkin institusi menjamin, barang ini baik, tapi kita memang punya kendala di dalam pelaksanaannya,” ujar Mekar dalam acara Asia Pacific Contribution on International Tax System, Kamis (25/9). Meski demikian, Mekar berharap perbaikan sistem Coretax dapat rampung dalam tiga bulan ke depan. “Saya mohon bantuan Bapak/Ibu sekalian untuk Coretax. Semoga dalam tiga bulan ini bisa selesai,” ujarnya. Mekar juga menjelaskan bahwa Coretax berbeda dengan sistem lama yang beroperasi secara terpisah. Keterkaitan ini berarti setiap perbaikan atau gangguan pada satu sistem dapat berdampak pada 21 sistem lainnya. “Sekarang seluruh sistemnya terkoneksi secara langsung, sehingga itu memang menimbulkan problematik. Begitu kita perbaiki satu sistem, dia akan mempengaruhi 21 sistem yang lain. Kalau dulu satu sistem saja, kalau ada kendala di situ ya sudah, dia tidak akan mengganggu yang lain,” katanya. Lebih lanjut, Coretax juga dikembangkan untuk terhubung dengan berbagai sistem di Kementerian Keuangan, mulai dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai hingga kas negara. Integrasi bahkan diperluas hingga mencakup sistem dari kementerian dan lembaga lain, seperti Dinas Catatan Sipil (Dukcapil) dan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Pajak Masukan Dengan Kode 08 Tidak Dapat Dikreditkan

Kring Pajak mengingatkan pembeli bahwa faktur pajak masukan dengan kode 08 yang digunakan untuk penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang dibebaskan dari PPN tidak dapat dikreditkan. Pusat kontak Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menjelaskan bahwa jika wajib pajak menerima faktur pajak dengan kode 08 karena dibebaskan dari PPN, faktur pajak masukan tersebut tetap harus dilaporkan dalam SPT. “Silakan pilih faktur pajak masukan dan klik tidak dikreditkan [pada aplikasi coretax] untuk memasukkannya ke dalam SPT. Setelah itu, periksa lampiran B3 di SPT Masa PPN,” demikian pernyataan Kring Pajak di media sosial. Perlu diketahui, kode 08 digunakan untuk penyerahan BKP dan/atau JKP yang dibebaskan dari PPN atau PPN dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) berdasarkan ketentuan khusus yang berlaku. ketentuan yang mengatur pembebasan PPN atas impor dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak tertentu dan/atau pemanfaatan jasa tertentu dari luar daerah pabean. ketentuan yang mengatur perlakuan PPN atas pemberian jasa kebandarudaraan tertentu kepada badan usaha angkutan udara niaga untuk pengoperasian pesawat udara yang melayani penerbangan internasional. ketentuan yang mengatur perlakuan PPN atas pemberian jasa kepelabuhanan tertentu kepada badan usaha pelayaran yang melakukan kegiatan angkutan laut internasional. ketentuan yang mengatur tata cara pemberian pembebasan PPN, atau PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, kepada perwakilan negara asing dan badan internasional beserta pejabatnya.